Jejak Kontroversial WS Rendra

INILARendraH.COM, Jakarta – Willibrodus Surendra Broto Rendra atau Wahyu Sulaiman Rendra yang lebih dikenal dengan WS Rendra bukan sembarang seniman. Lelaki dengan julukan Si Burung Merak itu dikenal sebagai penyair yang dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru karena karya-karyanya sarat protes. Meski penguasa kerap memusuhinya, Rendra tidak antipolitik. Sepanjang hidupnya, lelaki kelahiran Solo 7 Nopember 1935 ini dikenal sebagai seniman yang berulang kali kena cekal penguasa. Meski berprofesi sebagai seniman, aktivitas Rendra selalu menjadi sorotan aparat. Dengan puisi, Rendra ikut aktif menyokong gerakan mahasiswa pada masa Pemilu 1977. Saat itu mahasiswa mulai mengusung isu-isu politik, seperti ketidakpercayaan kepada pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden karena tidak bisa memulihkan kondisi perekonomian bangsa yang terpuruk. Pada 1 Desember 1977, dalam rapat mahasiswa di Salemba Jakarta, Rendra membacakan puisi ‘Pertemuan Mahasiswa’ yang mengobarkan semangat mahasiswa menentang penguasa. Rekaman gambar pembacaan puisi fenomenal itu bahkan dicuplik sebagai pembuka film ‘Yang Muda Yang Bercinta’ yang juga kontroversial. Aparat pun melarang film yang diperankan Rendra itu diputar di wilayah hukum Laksusda Jaya (sekarang Kodam Jaya). Seperti dikutip majalah Tempo, Laksusda menganggap film yang disutradarai Sjumandjaja itu mengakomodasi teori revolusi dan kontradiksi faham komunis yang telah dilarang di Indonesia. Setahun kemudian, perlawanan mahasiswa dijawab Mendiknas Noegroho Notosoesanto membuat aturan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Kordinasi Kampus) untuk menetralisir kehidupan kampus bersih dari isu politik dan menghapuskan Dewan Mahasiswa yang dianggap menggoyang pemerintahan Soeharto. Pada tahun itu juga, Rendra menjadi tahanan di rutan militer Jalan Guntur, Jakarta akibat pembacaan salah satu karyanya di Taman Ismail Marzuki. Puisi yang dianggap menyulut hasutan dan mendorong publik pada gejolak sosial itu membuat gerah Sudomo yang saat itu menjabat Pangkopkamtib. Proses politik juga menjadi perhatian Rendra saat sejumlah pementasan kesenian yang dianggap menyerang pemerintah dilarang pada 1991. Rendra dan sejumlah seniman mendatangi Gedung DPR untuk memprotesnya. Di kantor wakil rakyat itu, Rendra bahkan sempat membaca puisi dengan gayanya yang memukau. “Itulah pembacaan puisi terbagus yang pernah saya saksikan. Para seniman juga pergi ke kantor Menkopolkam Sudomo di Jalan Merdeka Barat. Lagi-lagi, Rendra menjadi bintang cemerlang yang mampu menyihir audiens,” kenang seniman teater Nano Riantiarno dalam blognya. Pada tahun 2009, keprihatinan Rendra akan penguasaan asing dalam ekonomi Indonesia diwujudkan dengan sikap politiknya. Saat apatisme politik melanda sebagian besar masyarakat Indonesia, Rendra menyatakan dukungannya pada pasangan capres Megawati-Prabowo. “Saya memilih Mega dan Prabowo karena keduanya antiekonomi asing,” kata Rendra. Rendra pun menghadiri deklarasi pencalonan Mega Pro di tempat pembuangan sampah Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada 24 Mei lalu. Di sana, dengan lantang Rendra membacakan puisi Chairil Anwar, ‘Karawang-Bekasi’ dan bersama-sama meneriakkan yel-yel penolakan terhadap ekonomi asing. Konsistensi kepedulian Rendra pada persoalan bangsa tak juga berkurang saat Rendra yang menderita jantung koroner tengah tergolek lemah di RS Mitra Keluarga, sekitar dua pekan lalu. Aktor senior Deddy Mizwar yang menjenguknya menuturkan bagaimana Rendra dengan suara terengah-engah membicarakan pilpres, perekonomian rakyat, dan segala keprihatinannya pada persoalan bangsa. “Di akhir hayat, dia berpikir tentang bagaimana bangsa ini. Pada saat sakit dia nggak berbicara masalah sakitnya, tapi rakyat yang diutamakan. Tiap orang pasti akan mendapat kebaikan-kebaikannya. Pemikirannya akan terus dihidupkan dan karyanya akan terus didengungkan,” tandas Deddy. Dalam blognya, seniman teater Nano Riantiarno menuliskan kesannya tentang Rendra yang pernah dipaksa hidup dalam kemiskinan, terlunta tanpa uang, dan seolah tidak memiliki masa depan. Namun bagi Nano, daya hidup Rendra tak pernah padam meski pernah dikalahkan oleh kekuasaan yang otoriter. Pada akhirnya, kata Nano, ternyata Rendralah sang pemenang. “Rendra, seniman besar yang kharismatik. Tak salah lagi. Dia milik kita, milik Indonesia, yang tak ternilai harganya. Dia permata mulia. Pikiran-pikirannya jernih dan tajam. Dia selalu mengungkap apa yang dirasa, tanpa jengah, tanpa rasa takut. Dengan sikap seperti itu pula dia pernah dicekal dan dipenjara. Tapi dia tak pernah jera. Rendra adalah guru. Empu yang mumpuni. Hingga kini dia terus mengkontribusi berbagai pikiran bernas. Kita seharusnya bersyukur memiliki dia,” kenang Nano. Dan itulah WS Rendra. Seperti yang termaktub jelas dalam penggalan puisinya ‘Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh, hidup adalah untuk mengolah hidup. Bukannya pula demi sorga atau neraka, tapi demi kehormatan seorang manusia.’ [ton]

http://inilah.com/berita/politik/2009/08/07/138764/jejak-kontroversial-ws-rendra/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.