Jogja Fashion Week 2009
Agustus 9, 2009 pada 6:56 am (Foto)
MENGENANG WS RENDRA
Agustus 8, 2009 pada 12:44 pm (Uncategorized)
Sajak Orang Kepanasan*
Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu
Karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan
maka kami bukan sekutu
Karena kami kucel
dan kamu gemerlapan
Karena kami sumpek
dan kamu mengunci pintu
maka kami mencurigaimu
Karena kami telantar di jalan
dan kamu memiliki semua keteduhan
Karena kami kebanjiran
dan kamu berpesta di kapal pesiar
maka kami tidak menyukaimu
Karena kami dibungkam
dan kamu nyerocos bicara
Karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan
maka kami bilang TIDAK kepadamu
Karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana
Karena kami semua bersandal
dan kamu bebas memakai senapan
Karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
Karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu
Universitas Indonesia, Salemba
1 Desember 1979
Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia**
Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah
O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan
O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara
O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara
Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya
Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!
Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.
Kiprah WS Rendra sebagai penyair, dramawan, budayawan, dan pengkritik sosial terkemuka Indonesia kontemporer, akan terus dikenang. Kritik sosial Rendra yang dituangkan dalam puisi dan drama akan terus mengentak untuk jangka panjang, sekalipun Burung Merak ini sudah terbang tinggi ke balik cakrawala hari Kamis dalam usia 74 tahun. Pengaruh karya seninya akan jauh melewati batas usianya, lebih-lebih karena memang karya seni itu abadi sementara hidup manusia pendek, ars longa, vita brevis . Sebagai kenangan atas jasanya dalam dunia susastra Indonesia dan kevokalannya melakukan kritik sosial, harian Kompas dalam edisi ini menurunkan dua puisi Rendra sebagai pengganti tajuk.
Sumber: Kompas ( Sabtu, 8 Agustus 2009)
Jejak Kontroversial WS Rendra
Agustus 7, 2009 pada 7:26 pm (Uncategorized)
INILA
H.COM, Jakarta – Willibrodus Surendra Broto Rendra atau Wahyu Sulaiman Rendra yang lebih dikenal dengan WS Rendra bukan sembarang seniman. Lelaki dengan julukan Si Burung Merak itu dikenal sebagai penyair yang dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru karena karya-karyanya sarat protes. Baca entri selengkapnya »
“Burung Merak” Itu Pun Terbang
Agustus 7, 2009 pada 1:15 pm (Artikel, Foto)

Jakarta, Kompas - Penyair dan dramawan WS Rendra, yang tenar dijuluki ”Si Burung Merak”, kini terbang selamanya. Setelah lebih dari sebulan dirawat akibat serangan jantung koroner di sejumlah rumah sakit, budayawan bersuara lantang ini meninggal di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading , Jakarta Utara, Kamis (6/8) pukul 22.10.
Rendra, menurut keterangan pihak keluarga, akan dimakamkan setelah shalat Jumat hari ini di TPU Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Citayam, Depok. Baca entri selengkapnya »
Arsitektur Dalam Bingkai Dekonstruksi
Agustus 7, 2009 pada 12:39 pm (Artikel)
Kejenuhan terhadap ke’monoton’an mampu mengusik beberapa arsitek . Sehingga beberapa arsitek mulai membuat karya mutakhir yang desebut arsitektur dekonstruksi. Seperti yang dilakukan Peter Eisenman dengan koleganya Richard Meier pada thun 1970an. Beberapa bangunanpun sudah dianggap menjadi icon dari arsitektur dekonstruksi. Seiring perkembangan arsitektur dekonstruksi, makin berkembang pula arsitek-arsitek yang menghasilkan kar ya karya yang luar biasa. Baca entri selengkapnya »
Jogja Fashion Week 2009 Tampilkan Busana Etnik
Agustus 6, 2009 pada 11:58 am (Artikel)
Yogyakarta, Kompas – Pergelaran busana Jogja Fashion Week 2009 yang berlangsung di Pagelaran Keraton Yogyakarta, 5-9 Agustus, menampilkan rancangan busana etnik dari berbagai daerah di Indonesia. Baca entri selengkapnya »
Bicara Tentang foto Hitam putih
Agustus 5, 2009 pada 5:50 pm (Foto)
Bicara Tentang foto Hitam putih

Keraton Yogyakarta

Kereta

Mendamba Perdamaian dengan Kearifan Lokal
Februari 12, 2009 pada 7:38 pm (Artikel)
Bagimanapun juga Konflik dan kekerasan adalh efek pandemi dari ketidakadilan soial, bukan karena reformasi. Sehingga konflik komunal yang terjadi pasca reformasi kurang tepat jika dikatakan sebagai euphoria kebebasan yang tak terkendalikan setelah represifitas orde baru. Menganggap konflik di indoneisa timur akhir-akhir ini sebagi konsekunasei logis dari kebebasan yang kebablasan waktu reformasi adalah salah kaprah. Baca entri selengkapnya »
Merajut Harmoni Islam dan HAM
Februari 12, 2009 pada 7:23 pm (Artikel)
Merajut Harmoni Islam dan HAM
Semakin maraknya produk konstitusi yang dikuti dengan munculnya berbagi Perda berbau Syariat yang dirasa bias Gender dan mendiskreditkan posisi peremanan semakin menguatakan argumen tenatng ketidakcockan syaiat dengan HAM sendir bagi dalam baik dalam konsep maupun prakteknya. Bisa disebutkan beberapa misalnya Perda kota Tangerang terkait pelacuran, Sistem pewarisan, dan UU Poligami, yang semuanya meposisikan perempuan dibawah otoritas laki-laki. Baca entri selengkapnya »

