Jogja Fashion Week 2009

Jogja Fashion Week 2009

MENGENANG WS RENDRA

Sajak Orang Kepanasan*

Karena kami makan akar

dan terigu menumpuk di gudangmu

Karena kami hidup berhimpitan

dan ruangmu berlebihan

maka kami bukan sekutu

Karena kami kucel

dan kamu gemerlapan

Karena kami sumpek

dan kamu mengunci pintu

maka kami mencurigaimu

Karena kami telantar di jalan

dan kamu memiliki semua keteduhan

Karena kami kebanjiran

dan kamu berpesta di kapal pesiar

maka kami tidak menyukaimu

Karena kami dibungkam

dan kamu nyerocos bicara

Karena kami diancam

dan kamu memaksakan kekuasaan

maka kami bilang TIDAK kepadamu

Karena kami tidak boleh memilih

dan kamu bebas berencana

Karena kami semua bersandal

dan kamu bebas memakai senapan

Karena kami harus sopan

dan kamu punya penjara

maka TIDAK dan TIDAK kepadamu

Karena kami arus kali

dan kamu batu tanpa hati

maka air akan mengikis batu

Universitas Indonesia, Salemba

1 Desember 1979

Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia**

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja

Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan

Amarah merajalela tanpa alamat

Kelakuan muncul dari sampah kehidupan

Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan!

O, malam kelam pikiran insan!

Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan

Kitab undang-undang tergeletak di selokan

Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!

O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!

Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa

Allah selalu mengingatkan

bahwa hukum harus lebih tinggi

dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!

O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!

Berhentilah mencari Ratu Adil!

Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!

Apa yang harus kita tegakkan bersama

adalah Hukum Adil

Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara

menjadi saksi yang akan berkata:

Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat

apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa

apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan

maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa

lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana!

Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!

Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?

Apakah masih akan menipu diri sendiri?

Apabila saran akal sehat kamu remehkan

berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap

yang akan muncul dari sudut-sudut gelap

telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi

Airmata mengalir dari sajakku ini.

Kiprah WS Rendra sebagai penyair, dramawan, budayawan, dan pengkritik sosial terkemuka Indonesia kontemporer, akan terus dikenang. Kritik sosial Rendra yang dituangkan dalam puisi dan drama akan terus mengentak untuk jangka panjang, sekalipun Burung Merak ini sudah terbang tinggi ke balik cakrawala hari Kamis dalam usia 74 tahun. Pengaruh karya seninya akan jauh melewati batas usianya, lebih-lebih karena memang karya seni itu abadi sementara hidup manusia pendek, ars longa, vita brevis . Sebagai kenangan atas jasanya dalam dunia susastra Indonesia dan kevokalannya melakukan kritik sosial, harian Kompas dalam edisi ini menurunkan dua puisi Rendra sebagai pengganti tajuk.

Sumber: Kompas ( Sabtu, 8 Agustus 2009)

Jejak Kontroversial WS Rendra

INILARendraH.COM, Jakarta – Willibrodus Surendra Broto Rendra atau Wahyu Sulaiman Rendra yang lebih dikenal dengan WS Rendra bukan sembarang seniman. Lelaki dengan julukan Si Burung Merak itu dikenal sebagai penyair yang dianggap berbahaya oleh rezim Orde Baru karena karya-karyanya sarat protes. Baca entri selengkapnya »

“Burung Merak” Itu Pun Terbang

Rendra Telah Pergi

Jakarta, Kompas - Penyair dan dramawan WS Rendra, yang tenar dijuluki ”Si Burung Merak”, kini terbang selamanya. Setelah lebih dari sebulan dirawat akibat serangan jantung koroner di sejumlah rumah sakit, budayawan bersuara lantang ini meninggal di RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading , Jakarta Utara, Kamis (6/8) pukul 22.10.

Rendra, menurut keterangan pihak keluarga, akan dimakamkan setelah shalat Jumat hari ini di TPU Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Citayam, Depok. Baca entri selengkapnya »

Arsitektur Dalam Bingkai Dekonstruksi

Kejenuhan terhadap ke’monoton’an mampu mengusik beberapa arsitek . Sehingga beberapa arsitek mulai membuat karya mutakhir yang desebut arsitektur dekonstruksi. Seperti yang dilakukan Peter Eisenman dengan koleganya Richard Meier pada thun 1970an. Beberapa bangunanpun sudah dianggap menjadi icon dari arsitektur dekonstruksi. Seiring perkembangan arsitektur dekonstruksi, makin berkembang pula arsitek-arsitek yang menghasilkan kar ya karya yang luar biasa. Baca entri selengkapnya »

Jogja Fashion Week 2009 Tampilkan Busana Etnik

Jogja Fashion Week 2009

Yogyakarta, Kompas – Pergelaran busana Jogja Fashion Week 2009 yang berlangsung di Pagelaran Keraton Yogyakarta, 5-9 Agustus, menampilkan rancangan busana etnik dari berbagai daerah di Indonesia. Baca entri selengkapnya »

Foto Dalam Bingkai Dekonstruksi

Dekosntruksi

Dekosntruksi

Bicara Tentang foto Hitam putih

Bicara Tentang foto Hitam putih

o1
Keraton Yogyakarta

2. Kereta
Kereta

3. Hamengkubuono

Mendamba Perdamaian dengan Kearifan Lokal

Bagimanapun juga Konflik dan kekerasan adalh efek pandemi dari ketidakadilan soial, bukan karena reformasi. Sehingga konflik komunal yang terjadi pasca reformasi kurang tepat jika dikatakan sebagai euphoria kebebasan yang tak terkendalikan setelah represifitas orde baru. Menganggap konflik di indoneisa timur akhir-akhir ini sebagi konsekunasei logis dari kebebasan yang kebablasan waktu reformasi adalah salah kaprah. Baca entri selengkapnya »

Merajut Harmoni Islam dan HAM

Merajut Harmoni Islam dan HAM
Semakin maraknya produk konstitusi yang dikuti dengan munculnya berbagi Perda berbau Syariat yang dirasa bias Gender dan mendiskreditkan posisi peremanan semakin menguatakan argumen tenatng ketidakcockan syaiat dengan HAM sendir bagi dalam baik dalam konsep maupun prakteknya. Bisa disebutkan beberapa misalnya Perda kota Tangerang terkait pelacuran, Sistem pewarisan, dan UU Poligami, yang semuanya meposisikan perempuan dibawah otoritas laki-laki. Baca entri selengkapnya »

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.